Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto menyatakan stok beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta Timur, tersedia dan harganya relatif stabil. Pernyataan itu disampaikan setelah ia bersama Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani meninjau pasar tersebut untuk mengecek pasokan dan harga beras.
Dalam kunjungan itu, rombongan mendatangi empat toko dan berbincang dengan para pedagang. Mereka menanyakan ketersediaan stok, jenis beras yang dijual, asal pasokan, serta harga di tingkat pasar induk. Perwakilan Bappenas dan Satgas Pangan turut mendampingi peninjauan.
Titiek mengatakan beras yang tersedia di sejumlah kios berasal dari sentra produksi di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Berdasarkan keterangan pedagang yang ditemui, pasokan berjalan lancar dan harga dinilai tidak tinggi. Ia menyebut kondisi tersebut membuat masyarakat tak perlu khawatir terhadap kemungkinan kelangkaan.
Kami hadir di sini untuk memastikan stok beras cukup, ada, aman, dan harganya juga stabil serta terjangkau oleh masyarakat.
Menurut Titiek, beras yang dijual di Pasar Induk Cipinang saat ini merupakan hasil produksi dalam negeri. Ia menilai hal itu menunjukkan pasokan tidak bergantung pada impor, sekaligus menjadi kabar baik bagi petani dan upaya pemenuhan kebutuhan pangan nasional.
Pasokan beras Cipinang dan perputaran stok
Titiek juga menyoroti jumlah stok yang tersedia di kios serta perputarannya. Menurut dia, stok yang banyak disertai penjualan yang berjalan baik dapat menjadi tanda bahwa pasar mampu menyerap pasokan dan masyarakat tetap membeli beras.
Ia mengaitkan kelancaran penyerapan itu dengan daya beli masyarakat dan kondisi ekonomi. Namun, peninjauan tersebut terutama memberikan gambaran mengenai situasi di Pasar Induk Cipinang; perputaran barang di pasar itu menjadi salah satu indikator yang ia gunakan untuk melihat aktivitas perdagangan beras.
Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani juga menyatakan pasokan beras di PIBC dan sejumlah wilayah berada dalam kondisi aman. Ia menepis kabar kelangkaan dengan merujuk pada beras yang terlihat tersedia di pasar. Menurut Rizal, pemerintah dan pelaku usaha swasta sama-sama berupaya memenuhi kebutuhan masyarakat.
Rizal menjelaskan, Bulog menyiapkan sekitar 507 ton beras premium per hari untuk seluruh Indonesia. Jumlah tersebut, menurutnya, mencakup sekitar 10 persen dari kebutuhan beras premium nasional, sementara sisanya dipasok oleh pihak swasta.
Cadangan Bulog dan penyaluran SPHP
Di luar beras premium, Bulog menyalurkan hampir 4.000 ton beras per hari melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Program ini ditujukan untuk mendukung ketersediaan beras sekaligus menjaga pasokan dan harga di pasar.
Rizal menyebut cadangan beras pemerintah yang tersimpan di gudang Bulog mencapai 4,8 juta ton. Dari jumlah tersebut, Bulog merencanakan penyaluran satu juta ton beras SPHP hingga Maret 2027. Ia juga menyampaikan rencana penyaluran satu juta ton beras bantuan pangan pada Oktober, November, dan Desember, sesuai arahan Presiden.
Besarnya cadangan menjadi salah satu penyangga pasokan, tetapi distribusi dan penyerapan di pasar tetap menentukan apakah beras dapat dijangkau masyarakat. Karena itu, kondisi stok di gudang perlu berjalan beriringan dengan kelancaran distribusi ke pedagang dan konsumen.
Produksi dalam negeri jadi perhatian
Dalam keterangan lain terkait peninjauan, data Badan Pusat Statistik mencatat produksi gabah kering giling hingga Agustus 2026 mencapai 43,89 juta ton. Produksi beras untuk konsumsi masyarakat disebut mencapai 25,29 juta ton. Angka tersebut menjadi bagian dari gambaran produksi nasional yang turut disorot dalam pembahasan ketahanan pasokan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan pemerintah terus mendorong produktivitas melalui penguatan sarana produksi dan pengelolaan air. Ia menyebut pemasangan pompa dilakukan sebagai salah satu langkah menghadapi tantangan cuaca ekstrem dan mendukung petani di lapangan.
Pernyataan soal stok aman dan pasokan tanpa impor kini perlu diikuti pemantauan rutin terhadap harga serta distribusi, termasuk di luar pasar induk. Bagi konsumen, ukuran yang paling terasa bukan hanya beras tersedia di gudang atau kios, melainkan harga yang tetap terjangkau ketika sampai ke pasar tempat mereka berbelanja.
