Panggung kubah raksasa menjadi pusat perhatian dalam konser Kanye West di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Sabtu (24/10/2026). Instalasi yang dikenal sebagai Dome Stage atau Giant World Globe Stage itu membawa konsep pertunjukan 360 derajat ke hadapan puluhan ribu penonton, termasuk penggemar dari luar negeri.
Berbentuk seperti bola dunia, panggung tersebut merupakan salah satu elemen visual paling ikonik dalam rangkaian penampilan live Ye, nama yang juga digunakan Kanye West. Desain serupa sempat menjadi perbincangan setelah dipakai saat ia tampil di SoFi Stadium, Los Angeles.
Di GBK, panggung itu tampil sebagai kubah besar dengan proyeksi peta bumi. Saat pertunjukan dimulai, Kanye berdiri di bagian puncak di bawah sorotan lampu putih yang menembus kabut asap. Pemandangan tersebut disambut sorak penonton di dalam stadion.
Dome Stage Kanye West diterbangkan dari luar negeri
Marketing & Communications Lead Raw Vision Collective, Karen Tjahja, mengatakan properti Globe didatangkan langsung dari luar negeri untuk kebutuhan konser Jakarta. Persiapan produksinya, kata dia, berlangsung dengan spesifikasi yang mendetail.
“Properti Globe ini diterbangkan khusus dari luar negeri, sehingga persiapan produksinya dipastikan sangat luar biasa,” kata Karen Tjahja di kawasan Senayan, Jakarta.
Menurut Karen, Kanye dan tim pribadinya terlibat langsung dalam proses produksi. Tim tersebut mengajukan spesifikasi yang ketat, sementara persiapan panggung di Jakarta dipastikan telah rampung sebelum pertunjukan dimulai.
Karen juga menyebut ukuran Globe Stage di GBK sama dengan yang digunakan dalam konser Kanye di negara lain. Artinya, instalasi raksasa tersebut tidak dibuat dalam versi lebih kecil untuk pertunjukan di Jakarta.
“Ukuran globe-nya itu persis sama seperti di negara-negara lain, sehingga pengunjung akan mendapatkan pengalaman menonton yang spektakuler,” ujar Karen.
Layar tambahan menyesuaikan bentuk Stadion GBK
Meski ukuran panggung dipertahankan, penataan produksi tetap disesuaikan dengan karakter GBK. Karen menjelaskan, kondisi stadion yang melebar berbeda dengan SoFi Stadium, tempat Kanye tampil di Los Angeles. Perbedaan bentuk venue itu menjadi pertimbangan agar penonton tetap dapat melihat aksi panggung dari berbagai bagian stadion.
Tim promotor bersama manajemen Kanye kemudian menambah layar LED di sekitar area panggung. Langkah ini ditujukan untuk membantu penonton di berbagai sudut, termasuk mereka yang menyaksikan konser dari tribun.
“Ye’s management mau para penonton dari semua sudut bisa melihat Ye. Jadi mereka menambahkan LED supaya kelihatan penampilan Ye,” kata Karen.
Keberadaan layar tersebut melengkapi panggung 360 derajat yang menjadi daya tarik utama konser. Dengan demikian, penyesuaian produksi tidak hanya berfokus pada ukuran instalasi, tetapi juga pada bagaimana pertunjukan dapat terlihat dari stadion yang luas.
Visual sinematik dan sambutan penonton
Laporan seusai konser menggambarkan panggung kubah itu sebagai latar bagi tata cahaya yang dramatis. Sinar laser warna-warni melintas di atas panggung, berpadu dengan asap dan visual artistik bernuansa monokrom pada layar raksasa. Siluet Kanye yang memegang mikrofon tampil dengan efek gambar bertekstur dan glitch.
Kombinasi tersebut menciptakan suasana sinematik dan futuristik di dalam SUGBK. Penonton di area festival maupun tribun menyambut penampilan Kanye dengan teriakan dan sorak yang menggema di stadion.
Konser itu juga menarik penonton dari luar Indonesia. Indonesia disebut menjadi satu-satunya tujuan Kanye di Asia Tenggara, sehingga sejumlah penggemar dari negara lain datang ke Jakarta. Joey Smith, penggemar asal Australia, mengatakan ia terbang khusus untuk menonton karena Kanye tidak menggelar tur di negaranya.
Joey tiba sehari sebelum konser dan menyebut “Ghost Town” sebagai salah satu lagu favorit yang ingin ia dengar secara langsung. Kehadiran penonton mancanegara menambah suasana internasional di sekitar GBK malam itu.
Dome Stage menjadi lebih dari sekadar properti besar: ia menyatukan desain panggung, cahaya, layar, dan pengalaman menonton di stadion. Konser ini sekaligus menunjukkan besarnya perhatian pada produksi, mulai dari mendatangkan instalasi dari luar negeri hingga menyesuaikan pandangan penonton dengan bentuk GBK. Bagi penyelenggara konser berskala besar berikutnya, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa kemegahan panggung perlu berjalan seiring dengan keterlihatan dari setiap sudut venue.
