Kebiasaan menyeruput kopi atau teh yang masih sangat panas dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker kerongkongan. Studi yang diterbitkan dalam International Journal of Cancer menemukan, orang yang memilih minuman “sangat panas” memiliki risiko karsinoma sel skuamosa kerongkongan (SCC) 3,17 kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang meminum minuman hangat.
Temuan tersebut menyoroti bahwa suhu minuman dapat menjadi hal yang patut diperhatikan, di samping jenis minumannya. Namun, penelitian ini menunjukkan hubungan antara pilihan suhu dan risiko kanker, bukan bukti bahwa minuman panas secara langsung menyebabkan kanker.
Studi dipimpin Keren Papier, ahli epidemiologi nutrisi dari Universitas Oxford, bersama timnya. Mereka menganalisis data 977.282 peserta dari dua kelompok studi besar di Inggris, yakni Million Women Study dan UK Biobank. Penelitian tersebut disebut sebagai studi terbesar yang menelaah hubungan minuman panas dengan kanker kerongkongan.
Seberapa panas minuman yang diteliti?
Dalam penelitian itu, pengertian minuman panas merujuk pada klasifikasi Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC). Minuman dengan suhu di atas 65 derajat Celsius masuk kategori panas. IARC menyebut minuman dengan suhu seperti itu “kemungkinan bersifat karsinogenik”.
Kategori tersebut penting dibaca secara cermat. Istilah “kemungkinan” tidak sama dengan kepastian bahwa setiap orang yang meminum teh atau kopi panas akan terkena kanker. Temuan riset berbicara tentang perbedaan risiko pada kelompok peserta dengan preferensi suhu yang berbeda.
Para peneliti membandingkan peserta yang menyukai minuman sangat panas dengan mereka yang memilih minuman hangat. Kelompok pertama tercatat memiliki risiko SCC kerongkongan lebih tinggi. Angka 3,17 kali lipat itu menggambarkan perbandingan risiko antarkelompok dalam studi, bukan kepastian nasib seseorang.
Jumlah konsumsi juga menjadi bagian dari hasil penelitian. Peserta yang meminum enam minuman panas atau lebih dalam sehari memiliki risiko SCC 71 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang mengonsumsi kurang dari enam minuman panas setiap hari.
Hubungan suhu dan risiko kanker kerongkongan
Hasil tersebut membuat suhu dan frekuensi konsumsi menjadi dua hal yang perlu diperhatikan saat menilai kebiasaan minum. Meski demikian, penelitian ini tidak menyatakan bahwa kopi atau teh sebagai jenis minuman tertentu menjadi penyebabnya. Fokus temuan adalah suhu minuman yang dipilih peserta.
Peneliti juga mengingatkan keterbatasan data suhu. Informasi yang dianalisis didasarkan pada preferensi yang dilaporkan peserta, sehingga belum tentu menggambarkan suhu minuman yang mereka konsumsi secara tepat. Dengan kata lain, kategori “sangat panas” dalam laporan penelitian tidak selalu berasal dari pengukuran langsung suhu setiap cangkir.
Keterbatasan itu menjadi alasan untuk tidak membaca hasil penelitian secara berlebihan. Angka peningkatan risiko memberi petunjuk mengenai hubungan yang teramati, tetapi belum cukup untuk memastikan hubungan sebab-akibat. Peneliti pun menyampaikan perkiraan pencegahan dengan syarat hubungan sebab-akibat memang benar.
Dalam asumsi tersebut, sekitar 14 persen kasus SCC kerongkongan diperkirakan dapat dicegah apabila orang yang biasa memilih minuman “sangat panas” beralih ke suhu “panas”. Angka ini merupakan perkiraan dari peneliti, bukan jaminan bahwa perubahan suhu akan mencegah kanker pada setiap individu.
Menurunkan suhu sebagai langkah yang disarankan
Meski belum membuktikan sebab-akibat, peneliti menyarankan agar suhu minuman panas diturunkan untuk membantu mencegah kasus SCC kerongkongan. Pesan utamanya bukan mengharuskan orang meninggalkan kopi atau teh, melainkan memberi perhatian pada suhu saat minuman dikonsumsi.
Bagi penikmat minuman panas, hasil ini dapat menjadi pertimbangan untuk tidak terburu-buru menyeruput minuman yang masih sangat panas. Frekuensi konsumsi juga relevan dalam temuan tersebut, terutama karena kelompok yang minum enam kali atau lebih setiap hari tercatat memiliki risiko lebih tinggi daripada kelompok dengan konsumsi lebih sedikit.
Namun, angka dalam studi tetap perlu dipahami bersama batasannya: suhu yang tercatat berasal dari laporan preferensi peserta, dan hubungan yang ditemukan belum membuktikan minuman panas sebagai penyebab kanker. Penelitian ini memberi dasar untuk bersikap lebih cermat terhadap suhu minuman, sembari menunggu pemahaman yang lebih kuat mengenai kaitannya dengan kanker kerongkongan.
