JAKARTA — Bayi yang menangis kuat sesaat setelah lahir belum tentu bebas dari penyakit jantung bawaan. Tangisan pertama dan skor Apgar yang normal hanya memberi gambaran kondisi umum bayi pada menit-menit awal kehidupan, bukan memastikan struktur jantungnya tidak mengalami kelainan.
Konsultan jantung anak Brawijaya Hospital Saharjo, dr. Anisa Rahmadhany, mengingatkan orang tua agar tidak menjadikan tangisan sebagai satu-satunya tolok ukur kesehatan jantung bayi. Ia menyampaikan hal itu dalam keterangan tertulis yang dikutip Validnews pada 23 Oktober 2026.
“Bayi yang lahir dengan kondisi baik, menangis kuat, bahkan memiliki skor Apgar normal” belum tentu terbebas dari kelainan jantung, kata Anisa. Menurut dia, penilaian tersebut ditujukan untuk melihat kondisi umum bayi pada awal kehidupan, bukan untuk mendeteksi kelainan struktur jantung.
Mengapa tangisan bayi bukan penentu kesehatan jantung?
Tangisan pertama memiliki peran penting dalam membantu paru-paru bayi mengembang dan memulai proses bernapas di luar rahim. Namun, keberhasilan bayi menangis setelah lahir tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa seluruh organ, termasuk jantung, berada dalam kondisi tanpa kelainan.
Perbedaan fungsi pemeriksaan awal dan pemeriksaan jantung ini penting dipahami. Bayi dapat tampak baik-baik saja pada saat dilahirkan, sementara penyakit jantung bawaan tertentu belum memunculkan tanda yang jelas. Karena itu, kondisi yang terlihat normal pada menit-menit pertama tidak semestinya membuat orang tua mengabaikan pemeriksaan yang dianjurkan.
Penyakit jantung bawaan sendiri tidak selalu menunjukkan gejala sejak lahir. Pada sebagian bayi, tanda-tandanya dapat dikenali lebih awal, tetapi pada kasus lain keluhan baru muncul beberapa minggu atau bulan kemudian. Situasi tersebut membuat pemantauan kondisi bayi tetap diperlukan, termasuk setelah masa persalinan berlalu.
Skrining saturasi oksigen membantu deteksi dini
Salah satu pemeriksaan yang dapat membantu mendeteksi penyakit jantung bawaan kritis adalah skrining saturasi oksigen menggunakan pulse oximeter. Pemeriksaan dilakukan dengan mengukur kadar oksigen dalam darah melalui sensor yang dipasang pada tangan kanan dan salah satu kaki bayi.
Pada bayi dengan kondisi normal, kadar saturasi oksigen umumnya berada pada tingkat yang sesuai. Sebaliknya, pada sebagian bayi dengan kelainan jantung tertentu, hasil pengukuran dapat menunjukkan kadar oksigen yang lebih rendah atau perbedaan antara tangan dan kaki.
Skrining ini membantu menemukan kemungkinan masalah yang tidak terlihat hanya dari tangisan atau penilaian awal. Anisa menyebut pemeriksaan yang dilakukan tepat waktu dapat memengaruhi perjalanan kesehatan anak ke depan. Hasil yang tidak normal perlu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan lebih lanjut oleh tenaga kesehatan.
Meski demikian, hasil skrining bukan alasan bagi orang tua untuk membuat kesimpulan sendiri mengenai kondisi jantung bayi. Anisa mengimbau agar bayi dibawa ke fasilitas kesehatan apabila hasil pemeriksaan tidak normal, muncul gejala yang mencurigakan, atau terdapat indikasi klinis yang membutuhkan evaluasi lanjutan.
Tanda penyakit jantung bawaan yang perlu diwaspadai
Di Indonesia, diperkirakan sekitar 50 ribu bayi lahir dengan penyakit jantung bawaan setiap tahun. Jumlah tersebut menjadi pengingat bahwa kelainan ini perlu mendapat perhatian, terlebih karena gejalanya tidak selalu tampak sejak bayi dilahirkan.
Orang tua dapat memperhatikan perubahan dalam kegiatan sehari-hari bayi. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain bayi lebih cepat lelah saat menyusu, bernapas lebih cepat, dan kesulitan menaikkan berat badan sesuai usianya. Jika tanda-tanda tersebut muncul, pemeriksaan di fasilitas kesehatan dapat membantu memastikan langkah penanganan yang diperlukan.
Gejala yang berkembang belakangan dapat membuat keluarga tidak langsung mengaitkannya dengan kondisi jantung. Karena itu, pengamatan terhadap pola menyusu, napas, dan pertambahan berat badan menjadi bagian penting dalam mengenali perubahan. Informasi tersebut juga dapat disampaikan kepada tenaga kesehatan saat bayi diperiksa.
Penanganan dini mendukung tumbuh kembang anak
Penyakit jantung bawaan yang tidak ditangani dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak. Dampaknya, antara lain, keterlambatan perkembangan motorik, meningkatnya risiko infeksi saluran pernapasan berulang, hingga gagal jantung.
Deteksi lebih awal diharapkan membantu bayi memperoleh perawatan yang sesuai dengan kondisinya. Karena gejala dapat muncul pada waktu yang berbeda-beda, orang tua perlu tetap memperhatikan perkembangan bayi dan tidak mengandalkan kesan bahwa persalinan berlangsung baik sebagai jaminan kesehatan jantung.
Tangisan kuat adalah bagian dari awal kehidupan bayi, tetapi bukan pemeriksaan jantung. Dengan memahami keterbatasan penilaian awal, melakukan skrining yang tersedia, serta segera berkonsultasi saat muncul tanda mencurigakan, orang tua dapat membantu memastikan kebutuhan kesehatan anak dinilai secara tepat sejak dini.
