Ibu menyusui membutuhkan dukungan yang lebih luas daripada bantuan mengurus bayi. Kesiapan mental, kesempatan beristirahat, serta dukungan suami dan keluarga menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan setelah persalinan. Hal itu dibahas dalam seminar daring Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PP NA) bertajuk When Mom is Happy, Everyone is Happy pada Sabtu, 28 Oktober 2023.
Seminar yang digelar dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental tersebut membahas peran dan kerja sama orang tua dalam pengasuhan anak. Tiga pembicara menyampaikan materi, termasuk dokter Winda Susra dan psikolog Elisa Kurniadewi.
Dalam sesi tentang adaptasi ibu baru, Winda mengingatkan bahwa menjadi ibu untuk pertama kali membawa perubahan fisik dan mental. Perubahan itu dapat disertai berbagai tantangan, termasuk memastikan bayi memperoleh ASI yang cukup. Karena itu, kebutuhan ibu sendiri juga perlu diperhatikan, bukan hanya urusan perawatan bayi.
Tantangan ibu baru tak berhenti setelah persalinan
Winda menyebut ibu baru dapat merasa tidak sempurna atau kesepian. Sebagian juga memiliki sedikit waktu untuk diri sendiri, kesulitan tidur cukup, dan menghadapi dilema karier. Perubahan pada tubuh setelah hamil dan melahirkan turut menjadi bagian dari proses penyesuaian.
Dalam situasi seperti itu, komentar maupun kritik tentang pengasuhan dari orang lain bisa menambah beban. Winda berpesan agar ibu tidak merasa harus menerima semua masukan. Setiap ibu menghadapi keadaan yang berbeda, sehingga ia perlu menimbang informasi yang diterima dan menjaga kondisi mentalnya.
Waktu untuk diri sendiri, atau me time, juga dinilai penting. Winda memberi contoh kegiatan sederhana seperti melihat-lihat marketplace, membeli es krim, atau menikmati waktu makan dengan lebih santai. Bentuk pemulihan, menurut dia, dapat berbeda bagi setiap ibu dan perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.
Perhatian terhadap kebutuhan ibu bukan berarti mengabaikan bayi. Justru, ibu yang mendapat ruang untuk beradaptasi dan menjaga dirinya dapat menjalani perubahan peran dengan dukungan yang lebih memadai. Dalam konteks menyusui, keluarga dapat membantu menciptakan suasana yang memungkinkan ibu menghadapi tantangan tanpa merasa sendirian.
Dukungan suami dan keluarga dibutuhkan
Winda menyarankan sejumlah persiapan bagi ibu muda. Mengikuti kelas prenatal atau kelas kesehatan untuk ibu hamil dapat membantu mengenali fase kehamilan, persalinan, kelahiran, serta perawatan bayi baru lahir. Ia juga menyarankan manajemen waktu, penerimaan terhadap kondisi, berbagi peran dengan suami, dan mencari dukungan keluarga.
Berbagi peran menjadi salah satu pesan penting dalam seminar tersebut. Tanggung jawab pengasuhan tidak semestinya membuat ibu menghadapi seluruh perubahan seorang diri. Dukungan pasangan dan keluarga dapat memberi ruang bagi ibu untuk mengatur waktu, beristirahat, dan menjalani masa awal menjadi orang tua dengan lebih siap.
Kesiapan juga perlu dibangun sebelum bayi lahir. Kelas bagi ibu hamil, misalnya, dapat menjadi kesempatan untuk mengenali hal-hal yang akan dihadapi. Sementara itu, pembagian peran dan dukungan orang terdekat membantu ibu menyesuaikan diri setelah persalinan. Langkah-langkah tersebut disampaikan sebagai bekal, bukan tuntutan agar ibu selalu mampu menjalani semuanya dengan sempurna.
Kesehatan mental ibu berdampak pada keluarga
Psikolog Elisa Kurniadewi menjelaskan bahwa kesehatan mental memungkinkan seseorang menghadapi tekanan hidup, mengenali kemampuannya, belajar dan bekerja dengan baik, serta berkontribusi kepada lingkungan. Ia juga mengingatkan pentingnya mengelola stres. Saat pikiran terasa penuh, Elisa menyarankan latihan menarik dan mengembuskan napas agar seseorang dapat menenangkan diri.
Dalam pemaparannya, Elisa menyebut data yang dikutip dari WIK dalam Kompas pada 2023: sekitar 50–70 persen ibu di Indonesia mengalami gejala baby blues atau depresi setelah melahirkan. Ia juga mengutip HCC dalam Kompas pada tahun yang sama, yang menyebut enam dari 10 ibu menyusui di Indonesia tidak bahagia. Angka-angka tersebut disampaikan dalam seminar untuk menyoroti perlunya perhatian pada kondisi psikologis ibu.
Elisa mengatakan kemiskinan dan kesehatan mental saling berkaitan. Ia juga menekankan bahwa keadaan psikologis positif, termasuk kepuasan hidup serta pikiran dan perasaan positif, berpengaruh pada kehidupan seseorang. Menurutnya, membahagiakan ibu merupakan sebuah investasi bagi keluarga.
Pesan seminar itu menempatkan kesejahteraan ibu sebagai bagian dari pengasuhan, bukan urusan yang bisa ditunda sampai semua kebutuhan bayi terpenuhi. Dukungan yang hadir sejak masa kehamilan, pembagian peran setelah persalinan, dan ruang untuk merawat diri dapat membantu ibu menghadapi masa menyusui. Keluarga pun dapat memulai dari hal sederhana: mendengarkan kebutuhan ibu dan tidak membiarkannya menjalani perubahan itu sendirian.
