Sejumlah orang merasa mual saat menjadi penumpang mobil listrik, terutama dalam perjalanan jauh. Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah karakter kendaraan yang dapat berakselerasi dan melambat lebih cepat daripada mobil berbahan bakar konvensional. Namun, para ahli mengingatkan bahwa hubungan antara mobil listrik dan mabuk perjalanan masih perlu diteliti lebih jauh.
Pengalaman itu dialami Lola Baird, warga London Utara yang sebelumnya tidak pernah mabuk perjalanan. Setelah kekasihnya membeli mobil listrik sekitar dua tahun lalu, ia kerap merasa sangat mual ketika diajak bepergian jauh. Keluhannya bahkan membuat Lola meminta sang kekasih mengganti mobil.
Lola bukan satu-satunya orang yang melaporkan hal serupa. Meski begitu, tidak semua penumpang mobil listrik mengalami mual. Ada pula orang yang tetap nyaman selama perjalanan, sementara pengemudi kendaraan listrik umumnya tidak mengeluhkan gejala yang sama.
Sinyal tubuh yang tidak selaras
Dosen senior bidang anatomi dan biomekanika di King’s College London, Dr. Irene Di Giulio, mengatakan sejumlah orang mengalami mabuk perjalanan lebih parah saat menjadi penumpang kendaraan listrik dibandingkan ketika berada di mobil non-listrik. Keluhan tersebut berkaitan dengan cara tubuh mengenali gerakan.
Tubuh mengandalkan tiga jenis informasi sensorik untuk mengetahui bahwa seseorang sedang bergerak. Informasi itu datang dari apa yang dilihat mata, sistem keseimbangan di telinga bagian dalam, serta serabut saraf di tubuh yang merasakan gerakan dan posisi.
Mabuk perjalanan dapat muncul ketika sinyal-sinyal tersebut tidak sejalan. Misalnya, penumpang yang menatap ponsel tidak melihat perubahan pemandangan di luar kendaraan. Mata memberi kesan bahwa tubuh diam, sementara telinga bagian dalam dan tubuh merasakan kendaraan bergerak. Ketidakcocokan itu dapat memicu rasa mual.
Dalam konteks mobil listrik, perubahan kecepatan yang terasa cepat mungkin menambah tantangan bagi tubuh untuk menyelaraskan berbagai sinyal tersebut. Di Giulio menyebut mobil listrik dapat berakselerasi dan melambat lebih cepat dibandingkan mobil berbahan bakar konvensional. Perbedaan karakter ini diduga ikut memicu mabuk perjalanan pada sebagian penumpang.
Keluhan penumpang belum menjadi kesimpulan ilmiah
Seorang ahli saraf dari Northwestern Medicine Chicago, Dr. Nicholas Hac, mengatakan ia kerap mendengar keluhan pasien yang merasa mabuk saat menjadi penumpang mobil listrik. Menurutnya, sekitar dua pasien setiap bulan secara khusus menyampaikan pengalaman tersebut.
“Saya sudah mendengarnya berkali-kali,” ujar Hac.
Namun, banyaknya cerita dari pasien belum cukup untuk membuktikan bahwa mobil listrik secara umum menyebabkan mabuk perjalanan. Dr. Bill Yates, peneliti mabuk perjalanan di Universitas Pittsburgh, mengatakan informasi yang tersedia masih terbatas dan penelitian komprehensif belum banyak dilakukan.
Dengan demikian, keluhan yang muncul sejauh ini lebih tepat dipandang sebagai pengamatan awal, bukan kesimpulan pasti. Para ahli belum memiliki cukup bukti untuk memastikan seberapa besar pengaruh jenis kendaraan terhadap risiko mual atau apakah karakter tertentu pada mobil listrik menjadi penyebab langsung.
Produsen kendaraan listrik Xpeng menyebut pertanyaan mengenai mual pada penumpang sebagai hal yang wajar, bukan sekadar perasaan. Perusahaan itu mengaitkannya dengan efek samping dari cara mobil listrik didesain. Meski demikian, penjelasan tersebut tidak mengubah kebutuhan akan penelitian lebih lanjut untuk memahami hubungan antara desain kendaraan dan mabuk perjalanan.
Kerentanan tiap penumpang berbeda
Pengalaman seseorang juga dipengaruhi tingkat kerentanannya terhadap mabuk perjalanan. Hac mengatakan faktor genetik memiliki pengaruh besar. Para ahli juga menyebut perempuan dan anak-anak lebih rentan mengalami kondisi tersebut.
Karena itu, rasa mual di dalam mobil listrik tidak otomatis dialami semua orang, dan penyebabnya tidak selalu sama. Perbedaan respons antarpenumpang menunjukkan bahwa faktor pribadi, sinyal sensorik, dan karakter perjalanan mungkin sama-sama berperan.
Penelitian yang lebih luas dibutuhkan untuk memastikan apakah perubahan kecepatan kendaraan listrik memang meningkatkan risiko mabuk perjalanan, serta pada kondisi seperti apa pengaruhnya paling terasa. Sampai ada bukti yang lebih kuat, keluhan penumpang tetap penting dicermati sebagai petunjuk awal bagi peneliti dan produsen kendaraan.
