Mantan pemain Inter Milan dan tim nasional Belgia, Radja Nainggolan, mengaku menyesal tidak memilih membela Timnas Indonesia. Penyesalan itu muncul setelah ia merasakan langsung besarnya antusiasme suporter dan kehidupan sepak bola di Tanah Air, ketika bermain untuk Bhayangkara FC pada masa akhir kariernya.
Nainggolan mengatakan pandangannya kini berbeda dibanding saat pertama kali datang ke Indonesia. Jika waktu bisa diputar kembali, ia mengaku tidak akan ragu memilih Indonesia sebagai tim nasional yang dibelanya. Namun, pada usia 38 tahun, kesempatan tersebut telah tertutup.
Penyesalan Nainggolan setelah mengenal sepak bola Indonesia
Dalam pernyataan yang dikutip Nieuwsblad, Nainggolan mengaitkan penyesalannya dengan perjalanan karier internasionalnya bersama Belgia. Ia merasa masa baktinya di tim nasional tersebut berakhir di bawah pelatih Roberto Martinez, sementara pilihan lain mungkin memberinya pengalaman panjang bersama skuad Garuda.
“Saat itu, saya tidak memikirkan hal itu, tetapi sekarang saya berusia 38 tahun, saya melihat hal-hal secara berbeda. Terutama ketika saya melihat karier internasional saya di sini (di Belgia) dan bagaimana berakhirnya di bawah (pelatih Roberto) Martinez. Saya bisa saja memiliki karier selama 15 tahun sebagai pemain internasional Indonesia,” ujar Nainggolan.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa penyesalannya bukan semata soal peluang membela sebuah negara. Ia juga membandingkan pengalaman internasionalnya di Belgia dengan kemungkinan yang, menurut perkiraannya, dapat ia jalani jika memilih Indonesia sejak awal.
Meski demikian, Nainggolan tidak mengatakan bahwa keputusan tersebut pernah benar-benar menjadi pilihan utama pada masa puncak kariernya. Ia justru mengakui bahwa ketika kesempatan itu mungkin masih terbuka, pikirannya belum tertuju pada Timnas Indonesia.
Dari kunjungan pada 2013 hingga membela Bhayangkara FC
Nainggolan pertama kali datang ke Indonesia pada 2013, saat ia berada di puncak karier. Kala itu, ia mengaku belum terpikir untuk membela skuad Garuda. Pengalamannya saat berkunjung belum membuatnya terkesan terhadap sepak bola Indonesia.
Persepsinya berubah setelah ia kembali merasakan kehidupan sepak bola di Tanah Air secara langsung pada masa akhir kariernya. Nainggolan pernah memperkuat Bhayangkara FC dan menyaksikan sendiri gairah pendukung terhadap pertandingan, termasuk kemampuan sebuah laga tingkat regional menarik hingga 70 ribu penonton.
Besarnya jumlah penonton itu menjadi salah satu hal yang membekas baginya. Dukungan suporter, menurut pengalaman yang ia ceritakan, menunjukkan betapa kuatnya perhatian masyarakat terhadap sepak bola di Indonesia. Pengalaman tersebut berbeda dari kesan yang ia bawa saat pertama kali berkunjung.
Ia juga menyoroti dukungan sponsor yang besar dalam sepak bola Indonesia. Bagi Nainggolan, hal itu menjadi bagian dari gambaran yang ia lihat setelah berada lebih dekat dengan kompetisi dan kehidupan olahraga di Tanah Air.
Kesan tentang suporter dan kehidupan sehari-hari
Pengalaman Nainggolan tidak hanya berkaitan dengan pertandingan. Ia turut mengapresiasi suasana sosial di Indonesia, terutama interaksi masyarakat yang ramah tanpa memandang status. Hal tersebut membuatnya merasa nyaman selama berada di Tanah Air.
Rasa nyaman itu tercermin dalam kebiasaannya menikmati makanan di warung pinggir jalan. Cerita tersebut memberi gambaran tentang kedekatannya dengan kehidupan sehari-hari di Indonesia, di luar lingkungan klub dan lapangan. Bagi Nainggolan, pengalaman langsung semacam itu ikut mengubah cara pandangnya terhadap negara yang sebelumnya tidak ia pertimbangkan sebagai pilihan untuk karier internasional.
Perubahan pandangan itu datang ketika karier profesionalnya sudah berada di fase akhir. Ia kini menyebut bahwa, jika diberi kesempatan mengulang waktu, dirinya akan memilih membela Indonesia. Namun, keinginan tersebut tinggal menjadi penyesalan karena usia dan perjalanan kariernya membuat peluang itu tidak lagi terbuka.
Kisah Nainggolan memperlihatkan bagaimana pengalaman langsung dapat mengubah penilaian seorang pemain terhadap sepak bola Indonesia. Gairah suporter, dukungan sponsor, dan keramahan masyarakat meninggalkan kesan yang kuat baginya. Untuk Timnas Indonesia, cerita itu juga menjadi pengingat bahwa daya tarik sepak bola nasional tidak hanya terlihat di lapangan, tetapi turut dirasakan oleh mereka yang datang dan hidup di tengah masyarakatnya.
