Biji pala dikenal sebagai rempah untuk masakan, tetapi bahan ini juga lama digunakan dalam pengobatan tradisional. Sejumlah kandungannya dikaitkan dengan potensi manfaat kesehatan, mulai dari membantu meredakan peradangan hingga mendukung kesehatan jantung. Meski demikian, temuan mengenai pala perlu dibaca sesuai konteks: manfaat yang disebutkan tidak serta-merta berarti rempah ini dapat menggantikan penanganan medis.
Dalam penggunaan tradisional, biji pala antara lain dimanfaatkan untuk mengatasi gangguan pencernaan seperti diare dan perut kembung. Biji ini juga mengandung zat gizi esensial, meski bahan yang tersedia tidak merinci jenis maupun jumlah zat gizinya. Berikut empat potensi manfaat biji pala yang dijelaskan dalam laporan JPNN.com yang mengutip GenPI.co.
1. Senyawa biji pala dikaitkan dengan peradangan
Peradangan kronis berkaitan dengan sejumlah kondisi kesehatan serius, termasuk diabetes, penyakit jantung, dan artritis. Biji pala mengandung senyawa antiinflamasi dari kelompok monoterpen, di antaranya terpineol, sabinene, dan pinene. Senyawa-senyawa ini disebut berpotensi membantu menurunkan peradangan di dalam tubuh.
Kaitan tersebut menjadikan kandungan pala menarik untuk diperhatikan, tetapi bukan berarti konsumsi biji pala dapat mencegah atau menyembuhkan penyakit-penyakit itu. Informasi yang dirujuk tidak menyebutkan ukuran efek, takaran konsumsi, ataupun cara penggunaan yang dapat menghasilkan manfaat tertentu. Karena itu, klaim mengenai peradangan sebaiknya dipahami sebagai potensi yang dikaitkan dengan senyawa dalam pala, bukan kepastian hasil bagi setiap orang.
2. Ekstrak pala menunjukkan efek antibakteri
Manfaat lain yang dilaporkan berkaitan dengan kesehatan mulut. Ekstrak pala menunjukkan efek antibakteri terhadap bakteri penyebab gigi berlubang dan peradangan gusi. Temuan ini menjelaskan potensi bahan tersebut dalam kaitannya dengan bakteri yang berpengaruh pada kondisi gigi dan gusi.
Namun, keterangan tentang ekstrak tidak otomatis berlaku sama pada pala yang digunakan sebagai bumbu masakan. Laporan tersebut juga tidak menguraikan bagaimana ekstrak diberikan atau seberapa besar efeknya. Dengan demikian, informasi itu tidak dapat dijadikan alasan untuk mengganti perawatan gigi dan gusi dengan pala. Potensinya tetap perlu dibedakan dari bukti bahwa penggunaan sehari-hari mampu mengatasi masalah mulut.
3. Antioksidan pala membantu melindungi sel
Pala disebut memiliki antioksidan yang kuat. Antioksidan berperan melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas. Ketika radikal bebas meningkat, tubuh dapat mengalami stres oksidatif, kondisi yang dikaitkan dengan masalah kesehatan serius seperti penyakit jantung dan kanker.
Hubungan tersebut memberi gambaran mengapa kandungan antioksidan pada bahan pangan kerap menjadi perhatian. Namun, keterangan yang tersedia tidak menyebutkan jumlah antioksidan dalam biji pala ataupun besarnya perlindungan yang diperoleh dari mengonsumsinya. Jadi, potensi antioksidan ini tidak seharusnya ditafsirkan sebagai jaminan untuk mencegah penyakit jantung atau kanker.
4. Suplemen pala dan faktor risiko jantung
Potensi keempat berkaitan langsung dengan kesehatan jantung. Laporan itu menyebut asupan suplemen pala dosis tinggi menurunkan kadar kolesterol dan trigliserida. Kedua hal tersebut merupakan faktor risiko utama penyakit jantung, sehingga perubahan kadarnya menjadi perhatian dalam pembahasan manfaat pala.
Informasi mengenai dosis tinggi penting dicermati. Laporan tidak menyebutkan takaran, durasi penggunaan, maupun rincian kondisi orang yang mengonsumsi suplemen tersebut. Hasil yang dikaitkan dengan suplemen dosis tinggi juga tidak dapat langsung disamakan dengan penggunaan pala sebagai rempah dalam makanan. Karena itu, temuan tersebut belum menjadi dasar untuk menentukan sendiri konsumsi suplemen.
Biji pala memiliki beragam kandungan dan telah digunakan dalam kuliner maupun pengobatan tradisional. Empat potensi manfaatnya mencakup peradangan, bakteri penyebab gangguan gigi dan gusi, perlindungan sel dari radikal bebas, serta faktor risiko penyakit jantung. Bagi pembaca yang mempertimbangkan pala sebagai suplemen atau untuk tujuan kesehatan tertentu, informasi mengenai dosis dan cara penggunaan tetap perlu diperjelas sebelum menjadikannya bagian dari kebiasaan.
