Wakil Ketua Komisi III DPR RI Rano Alfath mendukung keputusan Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto memutasi 199 personel Polri. Ia berharap penyegaran di tubuh kepolisian itu berdampak pada peningkatan kinerja anggota dan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Dukungan tersebut disampaikan Rano kepada wartawan pada Minggu (11/10/2026). Menurut dia, rotasi jabatan di institusi sebesar Polri merupakan bagian penting dari regenerasi sekaligus upaya memperkuat kapasitas organisasi.
“Saya mendukung langkah Kapolri melakukan penyegaran di tubuh Polri. Dalam institusi sebesar Polri, regenerasi dan penempatan personel menjadi instrumen penting untuk memperkuat kapasitas organisasi sekaligus membangkitkan semangat pengabdian anggota,” kata Rano.
Mutasi itu tertuang dalam Surat Telegram Kapolri Nomor ST/2251/X/KEP/2026 tertanggal 10 Oktober 2026. Perubahan penugasan mencakup perwira tinggi dan perwira menengah, termasuk sejumlah jabatan strategis di lingkungan Polri.
Mutasi Polri dinilai menjadi ruang pengembangan anggota
Rano menilai mutasi tidak seharusnya dipahami hanya sebagai pergantian pejabat. Penugasan baru, kata dia, dapat memberi kesempatan kepada anggota untuk memperluas pengalaman, meningkatkan kemampuan, dan menyesuaikan cara kerja dengan kebutuhan masyarakat.
Ia melihat perubahan posisi sebagai momentum untuk memperkuat motivasi kerja dan tanggung jawab anggota. Dengan penempatan yang tepat, personel diharapkan dapat mengembangkan gagasan maupun cara kerja yang lebih sesuai dengan tantangan pelayanan.
“Penugasan baru memberikan ruang bagi anggota untuk mengembangkan kemampuan dan menghadirkan inovasi. Kami melihat kebijakan ini sebagai momentum positif untuk meningkatkan motivasi kerja, memperkuat tanggung jawab, dan membangun budaya organisasi yang berorientasi pada kualitas pelayanan,” ujarnya.
Dalam penempatan personel, Rano juga menekankan pentingnya memperhatikan kompetensi, kemampuan, rekam jejak, dan integritas. Ia berpandangan bahwa pengembangan karier yang bertumpu pada prestasi dan profesionalisme dapat mendorong anggota bekerja lebih baik.
Menurut Rano, penghargaan terhadap pengabdian yang baik akan mengirimkan pesan kepada seluruh anggota bahwa profesionalisme dan integritas memiliki tempat dalam perjalanan karier. Hal itu, ia melanjutkan, dapat mendorong personel menjalankan tugas dengan sungguh-sungguh sekaligus menjaga tanggung jawab atas kewenangan yang diberikan.
“Ketika profesionalisme, prestasi, dan integritas menjadi dasar pengembangan karier, ada pesan yang kuat kepada seluruh anggota bahwa pengabdian yang baik memperoleh penghargaan.”
Pelayanan kepada masyarakat jadi ukuran keberhasilan
Rano mengaitkan mutasi tersebut dengan tagline baru Polri, yakni “Polisi Bersama Masyarakat”. Ia mengatakan, semangat itu perlu diwujudkan dalam kepemimpinan yang terbuka terhadap aspirasi warga serta pelayanan yang cepat dan humanis.
Menurut dia, penempatan personel yang tepat menjadi salah satu fondasi agar arah kebijakan Kapolri dapat dijalankan secara konsisten di berbagai tingkatan. Terutama pada layanan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Keberhasilan mutasi, kata Rano, pada akhirnya tidak cukup dinilai dari perubahan susunan jabatan. Dampaknya perlu terlihat dalam pengalaman warga saat berurusan dengan kepolisian, mulai dari respons terhadap laporan hingga kejelasan informasi perkembangan perkara.
Ia juga menyebut transparansi pelayanan dan kehadiran polisi yang mampu memberikan rasa aman sebagai hal yang perlu diperhatikan. Apabila masyarakat merasakan pelayanan yang lebih baik dan merasa didengar, kepercayaan terhadap Polri diharapkan semakin kuat.
“Ukuran keberhasilan mutasi pada akhirnya adalah peningkatan kualitas kerja yang dirasakan masyarakat. Ketika warga memperoleh pelayanan yang lebih baik dan merasa didengar, kepercayaan terhadap Polri akan semakin kuat,” ucapnya.
Sejumlah jabatan strategis ikut berganti
Surat telegram tersebut mencakup perubahan pada sejumlah jabatan strategis, di antaranya Wakabaintelkam, Kakorlantas, serta tiga kapolda. Rincian itu menunjukkan mutasi melibatkan berbagai posisi, meski Rano dalam keterangannya lebih menyoroti harapan terhadap dampak penyegaran bagi kinerja dan pelayanan.
Ia berharap para pejabat yang memperoleh penugasan baru dapat segera menyesuaikan diri dan menjalankan tanggung jawabnya. Rano juga meminta mereka memberi teladan kepada anggota, menjaga program yang telah berjalan baik, serta melakukan perbaikan secara terukur.
Rano optimistis penyegaran dapat menjadi energi baru bagi Polri. Namun, ia menegaskan bahwa amanah jabatan perlu diterjemahkan menjadi pengabdian yang profesional, humanis, dan berkeadilan.
Dengan demikian, perhatian publik terhadap mutasi 199 personel Polri tidak berhenti pada siapa yang menempati jabatan baru. Perubahan yang paling nyata, menurut harapan Rano, adalah pelayanan yang semakin cepat, terbuka, dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
