Pengeroyokan Pejompongan pada 27 Agustus 2026 menewaskan Bambang Setiawan, 60 tahun, dan melukai Faturrohman, 18 tahun. Penelusuran kolaboratif Project Multatuli, BBC News Indonesia, dan Suara.com menemukan sedikitnya 12 orang dalam kelompok berpakaian gelap yang diduga terkait kepolisian terlibat dalam rangkaian kekerasan tersebut.
Kronologi pengeroyokan Pejompongan terhadap Bambang dan Faturrohman
Bambang Setiawan merupakan warga Pejompongan yang dikeroyok, diseret, lalu meninggal dunia. Pada rentang waktu yang berdekatan, Faturrohman dikeroyok saat sedang duduk di gang rumahnya. Fatur kemudian diseret ke area Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), disiksa, serta dipaksa mengaku sebagai provokator demonstrasi sebelum dibawa ke Polda Metro Jaya.
Kedua peristiwa kekerasan itu terjadi di kawasan dekat tempat tinggal korban di Pejompongan, Jakarta Pusat. Kesaksian warga menempatkan waktu pengeroyokan pada sekitar pukul 23.00 hingga 23.30 WIB. Jarak waktu antara pengeroyokan terhadap Faturrohman dan Bambang disebut sekitar 30 menit.
Di media sosial, sempat muncul narasi bahwa pelaku merupakan anggota Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya. Kelompok tersebut memang turun ke jalan pada malam demonstrasi dan dipimpin Hercules alias Rosario de Marshall. Sejumlah video juga merekam massa GRIB mengejar serta memukuli demonstran di sekitar Slipi, Jakarta Barat.
Namun, lokasi kekerasan terhadap Bambang dan Faturrohman berada di Jalan Pejompongan Raya, Jakarta Pusat, sekitar 2 kilometer dari lokasi terakhir massa GRIB terekam. Penelusuran kolaboratif itu menyatakan menemukan kelompok lain yang disinyalir menjadi pelaku pengeroyokan di Pejompongan.
Temuan 12 orang berpakaian gelap dalam pengeroyokan Pejompongan
Kelompok yang ditelusuri mengenakan pakaian sipil serba gelap dan berada bersama aparat kepolisian berseragam di beberapa titik demonstrasi. Mereka terlihat di sekitar flyover Gerbang Pemuda menuju mal Senayan Park, di sekitar Gedung DPR, serta di kawasan Pejompongan Raya. Orang-orang itu memperkenalkan diri dari Polda Metro Jaya.
Menurut hasil penelusuran, kelompok tersebut memiliki kewenangan memeriksa barang bawaan demonstran, menggeledah ambulans, menciduk demonstran, dan keluar-masuk kawasan Gedung DPR. Setidaknya 12 orang yang diduga terlibat dalam pengeroyokan Bambang dan Faturrohman juga terlihat berkumpul dengan polisi pada siang, sore, hingga malam hari.
Mereka disebut tampak melakukan pengawasan, memberikan arahan, dan menangkap massa demonstrasi sebelum peristiwa kekerasan. Penelusuran juga menemukan salah satu pelaku pengeroyokan merupakan anggota Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya.
Pelacakan OTK dari video kekerasan Faturrohman
Terdapat tiga video di media sosial yang telah diverifikasi silang dengan beragam sumber: satu video memperlihatkan kekerasan terhadap Faturrohman dan dua video memuat pengeroyokan Bambang. Karena kejadian berlangsung malam hari dengan penerangan terbatas, wajah para pelaku tidak dapat diidentifikasi secara memadai.
Karena itu, pelacakan dilakukan melalui ciri visual yang melekat, seperti pakaian, topi, perawakan, barang yang dibawa, dan pergerakan mereka di berbagai video dari platform terbuka. Cara ini digunakan untuk mencocokkan sosok dalam rekaman kekerasan dengan keberadaan mereka di titik-titik demonstrasi sebelumnya.
Dua orang yang kemudian muncul dalam video pengeroyokan Faturrohman sebelumnya terlihat di persimpangan flyover Gerbang Pemuda menuju Senayan Park dari arah DPR/MPR RI. OTK 1 memakai topi navy dengan visor merah. Dalam video kekerasan, ia membawa tongkat kayu serta terlihat mengawasi ketika Fatur diseret dan ditendang.
OTK 2 mengenakan kaus hitam bertuliskan “The World is Full of Hope” dan terlihat membawa tali merah yang diidentifikasi sebagai borgol plastik. Ia terekam menendang Faturrohman. OTK 3 memakai pakaian hitam, celana abu-abu muda, dan topi bucket cokelat yang ditekuk; ia membawa tongkat rotan serta menendang wajah Faturrohman.
Sebelum itu, OTK 3 terlihat di sekitar DPR bersama rombongan berpakaian gelap yang menciduk seorang demonstran dan membawanya ke depan pagar DPR. OTK 4, yang berciri kaus hitam bermotif, topi gelap, ransel merah, serta tanda pengenal, juga terlihat memegang tongkat kayu dan ikut menendang Faturrohman. Pada siang hari, sosok ini berada di dalam kawasan DPR bersama rombongan yang menciduk, menyeret, dan menggebuk seorang laki-laki yang belakangan diketahui sebagai intelijen TNI.
Poin Penting
- Bambang Setiawan meninggal dunia setelah dikeroyok di Pejompongan.
- Faturrohman diseret, disiksa, dipaksa mengaku sebagai provokator, lalu dibawa ke Polda Metro Jaya.
- Kekerasan terhadap kedua warga terjadi pada 27 Agustus 2026, sekitar pukul 23.00 hingga 23.30 WIB.
- Penelusuran kolaboratif menduga sedikitnya 12 orang dalam kelompok berpakaian gelap terkait dengan kepolisian.
- Polda Metro Jaya menetapkan tiga tersangka dalam kasus pengeroyokan yang menewaskan Bambang.
Sikap Polda Metro Jaya dalam kasus pengeroyokan Pejompongan
Dalam konferensi pers pada pertengahan September, Polda Metro Jaya menetapkan tiga tersangka atas pengeroyokan warga sipil di Pejompongan yang disebut bertanggung jawab atas kematian Bambang. Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Iman Imanuddin, mengatakan para pelaku versi kepolisian adalah pekerja informal di tempat kejadian perkara yang terganggu oleh kerusuhan dan kemudian ikut dalam kerusuhan itu.
Untuk kekerasan terhadap Faturrohman, Polda Metro Jaya belum memberikan informasi terang. Sampai laporan kolaboratif tersebut diterbitkan, Polda Metro Jaya juga belum memberikan tanggapan atas temuan mengenai kelompok berpakaian gelap yang diduga bagian dari kepolisian.
Pertanyaan Seputar Pengeroyokan Pejompongan
Siapa korban pengeroyokan di Pejompongan?
Korban adalah Bambang Setiawan, warga Pejompongan berusia 60 tahun yang meninggal dunia, serta Faturrohman, remaja 18 tahun yang mengalami kekerasan dan kemudian dibawa ke Polda Metro Jaya.
Kapan pengeroyokan Pejompongan terjadi?
Pengeroyokan terjadi pada 27 Agustus 2026, dalam rentang sekitar pukul 23.00 hingga 23.30 WIB.
Bagaimana identifikasi kelompok berpakaian gelap dilakukan?
Identifikasi dilakukan dengan mencocokkan pakaian, topi, barang bawaan, dan pergerakan sosok-sosok dalam puluhan video dari platform terbuka karena kualitas rekaman malam hari tidak cukup untuk mengenali wajah.
Berapa tersangka yang ditetapkan dalam kematian Bambang?
Polda Metro Jaya menetapkan tiga tersangka atas pengeroyokan warga sipil di Pejompongan yang disebut bertanggung jawab terhadap kematian Bambang.
Perkembangan kasus pengeroyokan Pejompongan mencakup penetapan tiga tersangka terkait kematian Bambang, sementara informasi mengenai pelaku kekerasan terhadap Faturrohman dan tanggapan Polda Metro Jaya atas temuan penelusuran masih menjadi bagian penting untuk diikuti.
