Kasus influenza yang meningkat dalam beberapa pekan terakhir mulai tercermin pada klaim sejumlah perusahaan asuransi jiwa. Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menyebut kenaikan itu masih terkendali dan belum menjadi tekanan besar bagi industri, sementara data dari salah satu perusahaan menunjukkan klaim terkait influenza telah mencapai miliaran rupiah.
Ketua Dewan Pengurus AAJI Albertus Wiroyo mengatakan beberapa perusahaan anggotanya mencatat kenaikan klaim. Namun, ia menegaskan peningkatannya belum terjadi secara masif. Pernyataan itu disampaikan setelah acara Future by Design AAJI di Jakarta Selatan, 1 Oktober.
“Memang ada beberapa perusahaan mengalami kenaikan dari klaim karena influenza tersebut, tetapi tidak masif,” kata Albertus.
Kementerian Kesehatan sebelumnya menyatakan peningkatan kasus influenza di Indonesia masih berada dalam rentang kewaspadaan dan belum menunjukkan situasi yang mengkhawatirkan. Bagi industri asuransi, perkembangan kasus tetap perlu dicermati, terutama untuk melihat apakah kebutuhan layanan kesehatan akan bertambah dan memengaruhi klaim.
Allianz membayar klaim influenza Rp 13,8 miliar
Salah satu gambaran besarnya klaim terlihat dari data PT Asuransi Allianz Life Indonesia. Head of Health Analytics Allianz Life Indonesia Tubagus Argie Sunartadirdja menyebut perusahaan telah membayarkan klaim terkait influenza lebih dari Rp 13,8 miliar untuk 1.857 kasus, dalam periode Januari 2026 hingga minggu kedua September 2026.
Allianz juga mencatat jumlah kasus influenza yang membutuhkan rawat inap meningkat 47 persen secara tahunan pada periode Januari hingga Agustus 2026. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian kasus berujung pada perawatan di rumah sakit, meski data tersebut hanya menggambarkan pengalaman perusahaan dan tidak mewakili seluruh industri asuransi.
Tubagus mengatakan kebutuhan penanganan influenza dapat berbeda pada setiap nasabah. Sebagian cukup menjalani pemeriksaan dan pengobatan rawat jalan, sedangkan kondisi tertentu memerlukan perawatan inap. Karena itu, ia mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan gejala yang muncul, seperti demam, batuk, dan tubuh terasa lemas.
“Mengenali gejala sejak awal dan memahami kapan perlu mendapatkan pertolongan medis merupakan bagian penting untuk membantu mencegah kondisi berkembang menjadi lebih serius,” ujar Tubagus dalam keterangan resmi.
OJK masih menunggu laporan industri asuransi
Di sisi pengawasan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan belum menerima data mengenai klaim asuransi jiwa yang dikaitkan dengan kenaikan kasus influenza. Kepala Departemen Pengawasan Asuransi dan Jasa Penunjang OJK Sumarjono mengatakan lembaganya tetap mengamati perkembangan tersebut.
Menurut Sumarjono, dampak terhadap industri, termasuk kemungkinan pengaruh terhadap premi, baru dapat dinilai setelah laporan dari perusahaan asuransi tersedia. Dengan demikian, belum ada kesimpulan dari OJK mengenai besaran dampak influenza terhadap klaim maupun biaya perlindungan.
“Dari sisi kami belum ada data yang masuk. Namun, kami juga mengamati dan pengaruhnya tentu akan dilihat. Apakah kemudian menaikkan premi dan lain sebagainya? Tentunya kami akan menunggu sampai ada laporan-laporan terlebih dahulu dari industri,” katanya.
Albertus berharap langkah pemerintah dan Kementerian Kesehatan dapat membantu mencegah kenaikan kasus berkembang lebih jauh. Ia juga menyebut influenza memiliki vaksin, sehingga pencegahan diharapkan dapat menahan peningkatan klaim dan menjaga agar kondisi tersebut tidak memberi dampak besar terhadap ekosistem asuransi kesehatan.
Influenza A perlu diwaspadai kelompok berisiko
Tubagus mengingatkan influenza A dapat menimbulkan komplikasi dalam kondisi tertentu, terutama pada anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit kronis atau sistem kekebalan tubuh yang terganggu. Komplikasi yang dapat terjadi antara lain pneumonia, bronkitis, dan faringitis, selain kemungkinan memperburuk kondisi kesehatan yang telah ada.
Gejala influenza A umumnya dapat muncul tiba-tiba. Keluhannya mencakup demam atau menggigil, batuk, sakit tenggorokan, hidung tersumbat atau pilek, sakit kepala, nyeri otot, badan pegal, lemas, mudah lelah, hingga penurunan nafsu makan. Pada anak-anak, infeksi juga dapat disertai mual, muntah, atau diare.
Influenza A memiliki kemampuan mengalami perubahan genetik. Karena itu, pemantauan terhadap jenis dan karakteristik virus yang beredar menjadi bagian penting dari pengawasan. Bagi kelompok yang berisiko mengalami komplikasi, Tubagus menyarankan konsultasi dengan tenaga kesehatan sejak awal agar penanganan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Perkembangan klaim berikutnya akan bergantung pada laporan industri dan dinamika kasus influenza. Untuk saat ini, AAJI menilai kenaikannya belum masif, sedangkan OJK masih menunggu data. Di tengah pemantauan tersebut, pengenalan gejala dan akses ke penanganan medis tetap menjadi perhatian bagi masyarakat maupun perusahaan asuransi.
