Jesse Eisenberg mengaku penghargaan Razzie untuk perannya sebagai Lex Luthor dalam Batman v Superman: Dawn of Justice ikut memengaruhi keputusannya menjauh dari dunia akting. Dalam sebuah acara di BFI London Film Festival, ia mengatakan pernah mendengar bahwa kemenangan di ajang tersebut membuatnya sulit kembali bermain dalam film studio.
Pengakuan itu memberi gambaran tentang tekanan yang dirasakan aktor di tengah industri film yang, menurut Eisenberg, tak pernah benar-benar stabil. Ia tidak menyebut secara rinci proyek atau tawaran tertentu yang hilang setelah penghargaan tersebut. Namun, pengalaman itu disebut menjadi salah satu alasan ia mulai menulis naskah dan beralih menyutradarai film.
Razzie untuk Lex Luthor dan ketidakpastian karier
Batman v Superman garapan Zack Snyder mendapat sambutan yang terbelah. Film tersebut meraih pendapatan box office sebesar 424,1 juta dollar AS, tetapi juga masuk nominasi Razzie Awards—ajang yang memberi penghargaan bagi film dan penampilan yang dinilai buruk.
Eisenberg, yang memerankan Lex Luthor, disebut sebagai salah satu kandidat aktor pendukung terburuk pada tahun itu. Bagi sang aktor, perhatian semacam itu bukan sekadar lelucon atau catatan kecil dalam perjalanan sebuah film. Ia mengingat adanya kabar bahwa dirinya tak lagi bisa bermain di film studio karena menang Raspberry Awards lewat film Batman tersebut.
“Aku tak bisa lagi main di film studio tersebut karena menang Raspberry Awards dari film Batman,” kata Eisenberg, seperti dikutip Variety.
Ia menjelaskan bahwa kabar itu membuatnya memikirkan arah karier. Bagi seorang aktor, katanya, wajar jika muncul kecemasan tentang apakah karier sedang bergerak naik atau justru mulai menurun. Tidak ada fase yang sepenuhnya aman, sebab industri akting bisa berubah dan sulit ditebak.
Eisenberg menggambarkan dunia tersebut sebagai industri yang menakutkan dan tidak menentu. Seorang aktor bisa merasa sedang berada di jalur yang tepat, lalu tiba-tiba khawatir telah dianggap ketinggalan zaman. Ia mengakui sifat paranoid membuat dirinya merasa mampu melihat tanda-tanda penurunan itu jauh sebelum benar-benar terjadi.
Menulis naskah untuk menjaga karier tetap berjalan
Kecemasan itu ikut mendorong Eisenberg mencari cara lain untuk tetap berkarya. Ia kemudian berpikir perlu menyutradarai film dan mulai menulis naskah. Langkah tersebut, menurut pengakuannya, berangkat dari keinginan menjaga karier agar tetap bertahan, bukan semata-mata mengejar perubahan profesi.
Pengalaman di Batman v Superman pun menjadi bagian dari pertimbangan ketika ia memikirkan masa depannya sebagai aktor. Pernyataannya bukan berarti ia memastikan tak akan pernah berakting lagi, tetapi menunjukkan bahwa penilaian publik dan penghargaan negatif dapat ikut membentuk cara seorang pemain membaca peluang kerja.
Film Snyder itu sendiri membawa pulang empat Razzie. Di antara kategori yang disebut adalah skenario terburuk, sekuel terburuk, serta pasangan layar lebar terburuk yang diberikan kepada Henry Cavill dan Ben Affleck. Kontras antara raihan box office dan hasil di Razzie memperlihatkan bagaimana satu film dapat memperoleh respons yang sangat berbeda dari penonton, kritikus, dan penyelenggara penghargaan.
Eisenberg tak tertarik kembali ke film superhero
Dalam kesempatan yang sama, Eisenberg mengatakan ia tidak lagi tertarik tampil dalam film superhero lain. Sikap itu berjalan seiring dengan pengalaman di film DC tersebut, meski ia tidak menyatakan bahwa Razzie menjadi satu-satunya alasan untuk menolak genre itu.
Ia juga menolak tawaran untuk kembali memerankan Mark Zuckerberg, tokoh yang membawanya masuk nominasi Aktor Terbaik Oscar. Eisenberg menanggapi penghargaan itu dengan sinis, menyebutnya sebagai bentuk pengakuan atas betapa buruknya akting seseorang—sebuah komentar yang disampaikannya dengan nada tajam.
Karier aktor kerap dibaca dari penghargaan, angka penjualan tiket, atau proyek yang mereka ambil berikutnya. Namun, kisah Eisenberg menunjukkan bahwa keputusan untuk bertahan, berpindah ke belakang kamera, atau meninggalkan sebuah genre juga dibentuk oleh ketidakpastian yang mereka rasakan sendiri. Pengakuannya memberi konteks pada langkah kreatif yang ia pilih, sekaligus mengingatkan bahwa satu penghargaan tidak selalu menceritakan seluruh perjalanan seorang aktor.
