Dinas Kesehatan Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara, menggelar fogging serentak di 20 kecamatan pada Sabtu, 3 Oktober 2026, untuk menekan risiko penyebaran demam berdarah dengue (DBD) pada musim penghujan. Kegiatan pengasapan dilakukan melalui 25 puskesmas yang tersebar di seluruh wilayah kabupaten.
Kepala Dinas Kesehatan Tapteng Lisnawati Panjaitan mengatakan, sasaran fogging meliputi wilayah yang telah ditemukan kasus DBD serta daerah yang dinilai berpotensi tinggi menjadi tempat penularan. Langkah ini merupakan bagian dari upaya pencegahan yang melibatkan jajaran pemerintah daerah dan masyarakat.
Menurut Lisnawati, seluruh puskesmas dikerahkan untuk melaksanakan pengasapan sekaligus menyosialisasikan pola hidup sehat. Dinkes juga berkoordinasi dengan pihak kecamatan, lurah, dan kepala desa agar upaya pencegahan berjalan bersama di lingkungan masing-masing.
Fogging DBD Tapteng menyasar wilayah berisiko
Pelaksanaan serentak di 20 kecamatan menempatkan puskesmas sebagai pelaksana di tingkat wilayah. Dinkes memusatkan kegiatan pada daerah yang sudah memiliki temuan kasus maupun lokasi yang berpotensi menjadi tempat penularan. Musim penghujan menjadi salah satu pertimbangan dalam penentuan langkah preventif tersebut.
Lisnawati menyampaikan bahwa upaya menekan penyebaran DBD tidak hanya dilakukan melalui pengasapan. Sosialisasi kepada warga turut menjadi bagian dari kegiatan, termasuk mendorong kebiasaan hidup sehat dan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan.
“Kita terus berkoordinasi dengan pihak kecamatan, lurah, dan kepala desa serta bekerja sama berupaya melakukan langkah-langkah pencegahan terhadap penyakit sebagai upaya mewujudkan masyarakat yang sehat dan berkualitas. Seluruh Puskesmas kita kerahkan melaksanakan fogging, serta mensosialisasikan cara hidup sehat kepada masyarakat,” ujar Lisnawati.
Sebelum fogging serentak berlangsung, para camat, lurah, dan kepala desa di wilayah masing-masing telah menggerakkan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk. Warga diajak bergotong royong membersihkan lingkungan secara masif.
Rangkaian kegiatan itu menunjukkan bahwa pencegahan DBD di Tapteng tidak hanya bertumpu pada satu tindakan. Pengasapan berjalan beriringan dengan kerja bakti dan sosialisasi, sementara Dinkes meminta masyarakat melanjutkan upaya pemberantasan sarang nyamuk secara rutin di rumah maupun lingkungan sekitar.
Warga diminta konsisten menjalankan 3M Plus
Dinkes Tapteng mengingatkan bahwa upaya pemerintah tidak akan maksimal tanpa peran aktif masyarakat. Karena itu, warga diminta terus menggalakkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan metode 3M Plus, termasuk menguras tempat penampungan air sekurang-kurangnya satu kali dalam sepekan.
Langkah berikutnya adalah menutup rapat wadah penampungan air serta mendaur ulang atau mengubur barang bekas yang dapat menampung air. Ketiga kebiasaan tersebut menjadi bagian dari 3M yang dianjurkan kepada warga untuk mengurangi tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.
Unsur “Plus” dalam imbauan itu mencakup menaburkan abate, memakai obat antinyamuk, dan tidak menggantung pakaian bekas. Warga juga diminta menjaga sirkulasi udara serta cahaya di dalam rumah tetap baik.
Imbauan tersebut disampaikan sebagai pendamping kegiatan fogging dan gotong royong. Dinkes menekankan pentingnya keterlibatan warga agar gerakan PSN tidak berhenti setelah pengasapan selesai, melainkan menjadi bagian dari kebiasaan menjaga kebersihan lingkungan.
Lisnawati mengajak seluruh warga Tapanuli Tengah untuk bersama-sama peduli terhadap kebersihan lingkungan. “Untuk itu kami mengimbau masyarakat Tapanuli Tengah: Ayo jaga kebersihan lingkungan demi Tapanuli Tengah yang sehat dan bebas DBD,” katanya.
Dengan fogging di 20 kecamatan yang disertai PSN dan sosialisasi, Dinkes berharap upaya pencegahan dapat dilakukan secara bersama. Warga diharapkan tetap menjalankan 3M Plus, terutama saat musim penghujan, agar lingkungan tetap terjaga dan risiko penularan DBD dapat ditekan.
