Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Sumatera Selatan menurun pada Oktober 2026, tetapi Dinas Kesehatan setempat mengingatkan warga agar tetap waspada. Curah hujan yang diperkirakan meningkat pada November dan Desember berpotensi mendorong kenaikan kasus pada akhir tahun hingga awal 2027.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Sumsel, Ira Primadesa, mengatakan perubahan cuaca menjadi salah satu faktor yang memengaruhi naik-turunnya kasus dengue. Karena itu, penurunan yang tercatat saat ini belum menjadi alasan untuk mengendurkan pencegahan, terutama di lingkungan rumah.
Kasus DBD Sumsel turun pada Oktober
Data Dinkes Sumsel mencatat 161 kasus dengue pada Oktober 2026. Jumlah itu lebih rendah dibandingkan September, yang mencapai 391 kasus, dan Agustus sebanyak 426 kasus.
Namun, dinas memperkirakan intensitas hujan menengah hingga tinggi mulai berlangsung pada November-Desember 2026. Dengan kondisi tersebut, kasus dengue berpotensi meningkat pada Desember 2026 hingga Januari 2027.
“Intensitas curah hujan menengah-tinggi diperkirakan mulai terjadi pada bulan November-Desember 2026, sehingga kasus dengue diperkirakan meningkat pada bulan Desember 2026-Januari 2027,” kata Ira, Rabu (21/10).
Dalam catatan jangka panjang, Palembang masih menjadi wilayah dengan jumlah kasus dengue tertinggi di Sumsel selama periode 2024-2026. Kota itu melaporkan 1.268 kasus pada 2024, kemudian turun menjadi 968 kasus pada 2025 dan kembali berkurang menjadi 811 kasus pada 2026.
Angka kasus yang menurun perlu dibaca bersama risiko kematian. Sepanjang 2026, Dinkes Sumsel mencatat 22 orang meninggal akibat dengue. Banyuasin melaporkan enam kematian, Muara Enim lima orang, dan Musi Banyuasin tiga orang.
Keterlambatan penanganan dapat berakibat fatal
Dinkes menyebut pasien yang terlambat dibawa ke rumah sakit menjadi salah satu penyebab kematian. Sebagian pasien baru memperoleh pertolongan setelah mengalami Dengue Shock Syndrome (DSS), kondisi berat yang dapat berkembang menjadi kegawatan.
Komplikasi maupun penyakit penyerta juga bisa memperburuk keadaan. Karena itu, warga diminta tidak menunggu sampai kondisi pasien semakin lemah sebelum mencari bantuan medis.
Tanda bahaya yang perlu segera diperiksakan antara lain muntah terus-menerus, nyeri perut hebat, perdarahan, lemas berat, serta tangan atau kaki yang terasa dingin. Gejala tersebut memerlukan perhatian, terutama bila muncul saat seseorang sedang mengalami demam atau dicurigai terkena dengue.
Imbauan untuk segera mengakses layanan kesehatan ini penting di tengah potensi peningkatan penularan. Penanganan lebih awal memberi kesempatan pasien mendapat pemeriksaan dan perawatan sebelum kondisinya memburuk.
Pemberantasan jentik tetap menjadi langkah utama
Untuk mengendalikan nyamuk, Dinkes Sumsel akan mendistribusikan 200.100 sachet larvasida dan 1.224 botol insektisida Rokhantion UL. Persediaan tersebut menjadi bagian dari upaya pengendalian, tetapi pencegahan juga membutuhkan tindakan rutin di rumah dan lingkungan sekitar.
Warga diimbau melakukan pemberantasan sarang nyamuk dengan menguras dan menutup tempat penampungan air, serta mendaur ulang barang yang berpotensi menampung air. Perhatian pada wadah air tetap diperlukan, termasuk ketika cuaca sedang kering, sebab tempat penampungan dapat menjadi lokasi perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.
Langkah sederhana tersebut akan lebih efektif bila dilakukan secara berkala, bukan hanya setelah kasus ditemukan di sekitar rumah. Menjaga wadah air tetap bersih dan tertutup membantu mengurangi peluang jentik berkembang, sementara barang bekas yang dapat menampung air sebaiknya tidak dibiarkan terbuka.
Vaksinasi tidak menggantikan pencegahan lingkungan
Dinkes Sumsel juga melaporkan 5.000 anak sekolah dasar di Palembang telah menerima dua dosis vaksin dengue. Hingga data tersebut disampaikan, belum ditemukan kasus dengue pada anak-anak yang telah divaksin.
Meski demikian, vaksinasi bukan pengganti pemberantasan sarang nyamuk maupun kewaspadaan terhadap gejala. Perlindungan tetap perlu berjalan bersama kebiasaan menjaga lingkungan dan langkah cepat mencari pertolongan medis bila kondisi memburuk.
Dengan perkiraan musim hujan dan potensi kenaikan kasus pada pergantian tahun, kesiapsiagaan perlu dimulai sebelum lonjakan terjadi. Kebiasaan memeriksa tempat penampungan air, menjaga lingkungan, dan mengenali tanda bahaya dapat membantu keluarga merespons risiko DBD dengan lebih cepat.
